Sabtu, 23 Oktober 2010

Cerita Rakyat / Dongeng

Sang Kancil Dengan Buaya

Pada zaman dahulu Sang Kancil adalah merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang-binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang- binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah sedia membantu pada bila-bila masa saja.
Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh kerana makanan di sekitar kawasan kediaman telah berkurangan Sang Kancil bercadang untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari tersebut sangat panas, menyebabkan Sang Kancil berasa dahaga kerana terlalu lama berjalan, lalu ia berusaha mencari sungai yang berdekatan. Setelah meredah hutan akhirnya kancil berjumpa dengan sebatang sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang masa Sang Kancil terus minum dengan sepuas-puasnya. Kedinginan air sungai tersebut telah menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.
Kancil terus berjalan-jalan menyusuri tebing sungai, apabila terasa penat ia berehat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rendang di sekitar kawasan tersebut. Kancil berkata didalam hatinya "Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lazat-lazat". Setelah kepenatannya hilang, Sang Kancil menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaun kegemarannya yang terdapat disekitarnya. Apabila tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil terpandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai."Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut" fikir Sang Kancil.
Sang Kancil terus berfikir mencari akal bagaimana untuk menyeberangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya. Tiba-tiba Sang Kacil terpandang Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya apabila hari panas ia suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari.Tanpa berlengah-lengah lagi kancil terus menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata " Hai sabahatku Sang Buaya, apa khabar kamu pada hari ini?" buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari terus membuka mata dan didapati sang kancil yang menegurnya tadi "Khabar baik sahabatku Sang Kancil" sambung buaya lagi "Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?" jawab Sang Kancil "Aku membawa khabar gembira untuk kamu" mendengar kata-kata Sang Kacil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar khabar yang dibawa oleh Sang Kancil lalu berkata "Ceritakan kepada ku apakah yang engkau hendak sampaikan".
Kancil berkata "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini kerana Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kamu semua". Mendengar saja nama Raja Sulaiman sudah menggerunkan semua binatang kerana Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk di muka bumi ini. "Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan turun kedasar sungai untuk memanggil semua kawan aku" kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata "Hai buaya sekelian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua kerana Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini". Kata kancil lagi "Beraturlah kamu merentasi sungai bermula daripada tebing sebelah sini sehingga ke tebing sebelah sana".
Oleh kerana perintah tersebut adalah datangnya daripada Nabi Sulaiman semua buaya segera beratur tanpa membantah. Kata Buaya tadi "Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia" Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mula menghitung dengan menyebut "Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk" sambil mengetuk kepala buaya begitulah sehingga kancil berjaya menyeberangi sungai. Apabila sampai ditebing sana kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegembiraan dan berkata" Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahawa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman".
Mendengar kata-kata Sang Kancil semua buaya berasa marah dan malu kerana mereka telah di tipu oleh kancil. Mereka bersumpah dan tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara sehingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegembiraan dan terus meniggalkan buaya-buaya tersebut dan terus menghilangkan diri di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.
Sekian

Cerita Rakyat Riau

Si Lancang

Alkisah tersebutlah sebuah cerita,
di daerah Kampar pada zaman dahulu
hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua
bekerja sebagai buruh tani.

Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.
Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.
Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.
Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan kemewahan dan kekayaan Si Lancang.
Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang.
Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot minta untuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan.
Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."
Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya.  Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si Anak durhaka itu."
Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.
(Disadur dari B. M. Syamsuddin, "Banjir Air Mata Si Lancang," Cerita Rakyat Dari Riau 2, Jakarta: PT Grasindo, hal. 44-49).  

Cerita Rakyat Sumbar

Sumatra Barat
Pak Lebai Malang

 Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai disebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang kaya dari desa-desa tetangga. Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.
  Pak Lebai menimang- nimang untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau. Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai.
  Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang dimasak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan memberi tamunya tambahan kue-kue.   Hingga ia mulai mengayuh perahunya ketempat pestapun ia belum dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih.
Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai. Baru tiba ti ditengah perjalanan ia mengubah pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai. Dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih disana sangat kurus. Iapun mengubah haluan perahunya menuju hulu sungai. Sesampainya ditepi desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta disana sudah selesai.
Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju desa hilir sungai. Sayangnya, disanapun pesta sudah berakhir. Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau yang diinginkannya.
Saat itu ia sangat lapar, ia memutuskan untuk memancing ikan dan berburu. Untuk itu ia membawa bekal nasi. Untuk berburu ia mengajak anjingnya.
Setelah memancing agak lama, kailnya dimakan ikan. Namun kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebaipun terjun untuk mengambil ikan tersebut. Sayangnya ikan itu dapat meloloskan diri. Dan anjingnya memakan nasi bekal pak Lebai. Oleh karena kemalangan nasibnya, pak Lebai diberi julukan Lebai Malang. 
(Diadaptasi bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Lebai Malang," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, hal.15-19).

Jumat, 22 Oktober 2010

Politic Artikel ( GolPut Bukanlah Pilihan )

GOLPUT BUKANLAH PILIHAN..!!
(HIMBAUAN KEPADA GENERASI MUDA)

Hiruk pikuk kampanye masih jelas terngiang di telinga kita,masih terbayang jelas di ingatan,warna-warni atribut Parpol  menghiasi seluruh pelosok Negeri Indonesia, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miama sampai ke Pulau Rote, sebuah kesatuan utuh yang harus kita jaga dan perjuangkan menjadi Negeri yang kuat,baik secara Ekonomi,Sosial,Budaya,Politik dan Pertahanan.
            Ya..!,Pesta Demokrasi,Pemilu yang merupakan perhelatan terbesar negeri ini memang sudah dipelupuk mata.9 April 2009,merupakan hari yang sangat penting yang menentukan arah perjalanan Bumi Pusaka ini untuk rentang waktu lima tahun kedepan, “Mau dibawa kemana bangsa ini??”merupakan pertanyaan yang jawabannya ada di tangan kita semua,Warga Negara yang talah memiliki hak yang sangat berharga untuk memilih para pemimpin yang akan memperjuangkan nasib kita semua dan mengangkat harkat dan martabat bangsa serta memulihkan Negara kita dari keterpurukan akibat Krisis Global yang begitu dahsyat menghantam perekonomian kita.
            Namun ironis memang,di tangah dinamika politik yang bergejolak ini,masih banyak warga yang tidak tahu akan apa yang sedang terjadi,apalagi menentukan pilihan pada Pemilu yang mereka tidak tahu kapan akan dilaksanakan?.Bahkan,yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit warga yang tahu tapi malah tidak mau peduli dengan pelaksanaan Pesta Demokrasi ini,dan satu hal yang disayangkan sekali bahwa sebagian besar dari kaum Apatis ini justru adalah generasi muda,generasi yang akan menjadi penerus pembangunan ini di masa yang akan datang,justru tidak mau ambil peduli.
            Sebagai generasi muda, saya juga merasa heran. Suatu hari ketika saya sedang menyimak berita yang membahas tentang perkembangan perekonomian  Nasional,teman-teman kos saya justru lebih memilih nonton sinetron,dan ketika saya sedang serius nonton liputan perkembangan Pemilu,teman-teman saya malah langsung mengganti channel ke program musik yang katanya baru pantas/cocok ditonton oleh anak-anak muda.Yah,,selaku golongan minoritas saya hanya bisa menuruti kemauan mereka dan beranggapan bahwa memang inilah Konsekuansi hidup di Negara Demokrasi.
            Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja,mengingat bahwa generasi muda menyimpan sebuah potensi yang sangat luar biasa untuk berperan dalam pembangunan demi melajutkan kehidupan bangsa,hal ini juga sejalan dengan perkataan sang Proklamator: “Give me ten youths,so I would shake the world!!”mendengar statement ini   semestinya tersirat rasa bangga dalam diri kita sebagai generasi muda,lalu pantaskah kita merasa acuh terhadap pelaksanaan Pemilu ini?.Satu hal yang mesti kita ingat bahwa bagaimana wajah Indonesia 10-20 tahun yang akan datang? tanpa partisipasi kita untuk membuktikan eksistensi kita dalam upaya pemulihan bangsa ini.Relakah kita Tanah Air yang kita cintai ini tersungkur tak berdaya karena dipimpin oleh orang-orang yang hanya bisa menjanjikan kebahagiaan,namun dalam prakteknya hanya penderitaanlah  yang bisa mereka berikan karena mereka sibuk menggerogoti uang Negara untuk tabungan pribadi. 

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa minimnya orang-orang yang dapat dipercaya/memiliki integritas,empati tehadap rakyat dan memiliki kompetensi untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat,yang sekarang ini duduk di lembaga perwakilan kita.Namun,masalah ini janganlah membuat kita pesimis dengan kondisi yang ada,tapi tugas kita sekarang adalah menumbuhkan semangat dalam diri kita untuk menunjukkan eksistensi kita bahwa kita bisa berbuat untuk kesuksesan Pemilu ini.jangan biarkan ketidakpercayaan kepada para pelaku pemerintahan dan wakil-wakil kita  membuat kita berpaling dari tanggung jawab kita.Jangan biarkan lembaga perwakilan kita didudki oleh oknum-oknum busuk yang hanya bisa mengandalkan keelitan dan kepopularitasannya untuk meraih simpati rakyat.tugas kitalah untuk mengubah citra munafik,pecundang dan tak bermoral yang sekarang ini melekat pada lembaga perwakilan itu.
            Semua itu hanya bisa kita wujudkan dengan menumbuhkan kesadaran kita dan teman-teman generasi muda lainnya bahwa mau tidak mau,jalan satu-satunya adalah kita harus berupaya  sekuat mungkin untuk menyukseskan pemilu ini,berpartisipasi walaupun belum mampu mewakili generasi muda untuk duduk di DPR, tapi wakililah diri kita sendiri untuk mewujudkan hasrat dan keinginan kita memiliki pemimpin-pemimpin yang bersih dengan menyalurkan Hak Pilih kita sesuai hati sanubari kita dan yang tak kalah pentingnya mari sama-sama kita teriakkan kata “TIDAK” pada GOLPUT,sehingga dengan itu kita harapkan bahwa Pemilu Indonesia 2009 tidak hanya merupakan Pemilu termahal di Dunia tapi juga Pemilu yang bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik di Dunia.
            Untuk itu, sekali lagi saya menghimbau kepada rekan-rekan generasi muda untuk meyakinkan diri kita bahwa “GOLPUT BUKANLAH PILIHAN..!!”.

SEPRI,Mahasiswa Semester II,Jurusan PendidikanBahasa                      Inggris,UIN SUSKA RIAU.